Rabu, 21 September 2016

Psikologi Manajement



Nama : Fakhri Alwan Maulana
Kelas : 3PA18
NPM : 13514899


Pengertian Psikologi Manajemen ?

Psikologi manajemen adalah ilmu tentang tingkah laku manusia bagaimana mengatur atau me-manage sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan dimana dalam rangka melaksanakan fungsi-fungsi manajemen untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Mengapa manusia membutuhkan psikologi manajemen? 

Karena manusia membutuhkan pengelolaan dalam bebagai macam hal, dalam perlelolaan internal seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan dan lain-lain. Pasalnya, ilmu psikologi yang memang berpusat pada manusia, mampu mengintervensi berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan, dsb dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM yang setinggi-tingginya untuk produktifitas perusahaan. Kegiatan intervensi (yang bertujuan untuk "mengolah" manusia) inilah yang menjadi titik tolak dari kajian ilmu psikologi manajemen.

Contoh Psikologi Manajemen dalam Kehidupan Sehari-hari.

Didalam perkuliahan kita sering di berikan tugas yang banyak oleh dosen, dan juga di berikan deadline yang sangat mepet waktunya lalu terkadang dosen suka mengganti jadwal kelas atau menambahkan kelas tambahan, disni peran ketua kelas adalah untuk mengontrol kelas agar tetap baik dalam kegiatan belajar mengajar dikelas dan juga menyampaikan informasi yang di berikan oleh dosen.


Sumber :
Leavitt, Harold J. (1992). Psikologi Manajemen. Jakarta: Erlangga.
Zarkasi, Muslichah. (1978). Psikologi Manajemen. Jakarta: Erlangga.


Rabu, 20 Juli 2016

Pekerjaan dan Waktu Luang

Kelompok 4 (2PA18)

Aggo Satria Pandega
Andini Rizky Ramadhani
Bimo Anggoro Putro
Diah Sopiah
Fakhri Alwan Maulana
Firman Ardhan
M.Riyan Alamsyah
Maulana Prakasa
Mutiara Santi
RD Achmad Erzirizal
Syahrul Ramadhan Saputra
Thimin Jayadi Suhardyi
Vidyakhansa Purnagita



Pekerjaan dan Waktu Luang

A.    Mengubah sikap dalam pekerjaan

1.      Sikap
Sikap merupakan ungkapan perasaan seseorang yang persisten (ajeg) terhadap sebuah obyek, baik ungkapan yang bernada postif atau negatif. Obyek dalam hal ini bersifat generic dan bisa diklasifikasikan menjadi dua yaitu obyek fisik dan non-fisik. Oleh karena itu obyek bisa berupa orang, tempat kerja (organisasi), gaji, pekerjaan, kejadian atau segala hal dimana seseorang bisa mengungkapkan perasaannya. Jadi, ketika seseorang mengatakan bahwa Ia mempunyai sikap positif terhadap perkerjaan berarti Ia menpunyai perasaan senang berkaitan dengan pekerjaan tersebut. Hanya saja perlu disadari pula bahwa seseorang terkadang mempunyai perasaan positif terhadap beberapa aspek pekerjaan namun di saat yang sama juga mempunyai perasaan negatif terhadap beberapa aspek pekerjaan yang lain.

sikap hanya mempengaruhi perilaku seseorang terhadap obyek, orang atau situasi yang spesifik. Meski demikian, meski tidak selalu, nilai-nilai individu dan sikap seseorang biasanya berjalan seiring. Sebagai contoh seorang manajer yang sangat menghargai seseorang yang suka membantu orang lain mungkin akan bersikap negatif terhadap seseorang yang membantu orang lain tapi cara membantunya tanpa mempertimbangkan etika.

2.      Pekerjaan
Pekerjaan adalah sesuatu hal yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan baik biologis maupun fisiologis diri individu tersebut.  sikap kerja seperti dikemukakan oleh T. Ndrahasebagai berikut: (ada 15 hal yang dibicarakan oleh T. Ndraha dan saya mengambil beberapa )

Kerja adalah hukuman:Sebagian orang merasa bahwa kerja adalah sebuah hukuman. Hal ini misalnya terjadi pada orang-orang terpidana yang harus menjalani  kerja paksa.

Kerja adalah beban:   Bagi orang malas, kerja adalah beban. Itulah sebabnya banyak orang yang lebih suka minta-minta daripada bekerja. Demikian juga bagi pekerja yang berada pada posisi terpakasa atau dipaksa, kerja adalah beban.

Kerja adalah kewajiban: Dalam system birokrasi atau system kontrak, kerja adalah kewajiban guna menjalankan system atau memenuhi kewajiban sesuai kontrak.

Kerja adalah sumber penghasilan: Pada umumnya masyarakat menganggap bahwa kerja adalah sumber penghasilan. Dengan bekerja seseorang berharap mendapat imbalan untuk menghidupi keluarga. Dalam batas-batas tertentu anggapan dasar ini menjadi pangkal profesionalisme

Kerja adalah kesenangan : Karena hobi atau cocok dengan pekerjaan, sebagian orang menganggap kerja adalah sebuah kesenangan utamanya untuk mengisi waktu luang.

3.      Merubah sikap dalam Pekerjaan
 Jika seorang karyawan ditengarai memiliki sikap negatif terhadap satu atau beberapa aspek dalam kehidupan organisasi biasanya manajer berusaha untuk merubah sikap negatif tersebut menjadi sikap yang positif. Sayangnya karyawan cenderung resisten terhadap perubahan. Oleh karena itu sebelum melakukan perubahan sikap karyawan harus terlebih dahulu diketahui bagaimana cara terbaik untuk melakukan perubahan dan kemungkinan tingkat keberhasilannya. Perubahan sikap dapat dilakukan dengan menambah, menghilangkan atau memodifikasi keyakinan atau komponen afektif lainnya. Diantaranya adalah:
Ø    Memberi informasi baru.
Ø    Menambah atau mengurangi rasa takut.
Ø    Menambah atau mengurangi keraguan.
Ø    Partisipasi dalam diskusi kelompok.
Ø    Sikap Kerja

Uraian-uraian diatas menegaskan bahwa seorang manajer perlu memahami dengan baik sikap kerja karyawan mengingat sikap positif atau negatif tentu akan berpengaruh terhadap kinerja organisasi.

B.     Cara Memilih Pekerjaan

1.      Carilah pekerjaan sesuai dengan bidang yang sangat disukai
Apapun pekerjaannya baik itu di suatu startup ataupun perusahaan yang sudah mapan, pastikan kalian mencari pekerjaan dengan bidang yang memang sangat disukai. Mungkin kalian sudah tidak asing dengan istilah “Follow your passion”. Ya, “passion” — orang pada umumnya secara sederhana menerjemahkannya dengan “kesukaan pribadi” atau “yang paling disukai” — bisa memandu kalian untuk sukses di dunia kerja. Karena, jika kalian bekerja sesuai dengan bidang yang memang sangat disukai, kalian akan merasa seperti sedang tidak bekerja, melainkan sedang mengerjakan sesuatu yang sudah disukai bahkan bisa jadi dicintai.
Bahkan, misalkan di tengah perjalanan karir kalian merasa ada passion lain yang lebih disukai, bagi Jason itu bukan sebuah masalah, namun tetap ikuti keinginan tersebut. Karena passion memang kemungkinan bisa berubah bahkan bertambah sesuai pengalaman hidup seseorang.

2.      Bekerjalah untuk belajar
Siapa bilang jika proses belajar berhenti setelah wisuda S1 diselenggarakan? Memasuki dunia kerja sama dengan memasuki tahap pembelajaran selanjutnya. Jason menuturkan, bagaimana mungkin dia yang lulusan S1 Teknik Kimia dan S2 Teknik Finansial, tetapi kini bisa menjadi entrepreneur di bidang startup teknologi kecuali tanpa semangat belajar yang terus menerus?
Jason mengisahkan masa lalunya bahwa setelah dua tahun bekerja di McKinsey, dia kembali ke Indonesia dan memulai sesuatu yang baru saat itu yakni mendirikan startup. Untuk menunjukkan kesungguhannya Jason menargetkan untuk berdedikasi dua sampai tiga tahun untuk menguji apakah startup dia sukses atau tidak. Logikanya sederhana, kalau selama periode itu ternyata startup-nya gagal, dia masih bisa kembali mencari pekerjaan.Bukan hanya itu, Jason juga akhirnya memutuskan untuk belajar lagi dengan mengikuti kursus kilat pemrograman di Binus, karena dia menyadari bahwa dia tidak tahu cara membuat sebuah website atau setidaknya dia mengikuti kursus tersebut sekedar untuk memahami dasar-dasar pemrograman.
Kesimpulannya, baik itu kalian akan bekerja di suatu startup atau perusahaan yang sudah mapan, proses pembelajaran itu harus tetap berlanjut. Karena bekerja hakikatnya juga belajar dengan “mata kuliah” dalam bentuk lain.



3.      Kenali siapa calon atasan kalian
Pada dasarnya hidup itu harus lebih baik daripada sebelumnya termasuk saat memasuki dunia kerja. Oleh karena itu, baik bekerja di suatu startup maupun perusahaan yang sudah mapan, pastikan kalian mengenali siapa calon atasannya nanti.
Mengapa?
Karena kualitas seorang atasan bisa memengaruhi kualitas bawahan selama dia bisa belajar dari atasan tersebut. Tips ketiga ini menjadi penting agar kalian bisa menjadi manusia yang lebih baik daripada sebelumnya. Apalagi sekiranya kalian memutuskan untuk bekerja di suatu startup, pastikan founder-nya dikenal passionate pada bidang startup yang tengah dikelolanya.
4.      Bekerjalah dengan orang-orang yang terbaik
Setelah memasuki dunia kerja baik itu di suatu startup maupun perusahaan yang sudah mapan, pastikan kalian memilih teman satu kantor yang dianggap terbaik. Karena dari kualitas diri mereka lah, kalian memiliki peluang untuk terpengaruh menjadi pribadi yang lebih baik juga.
Jason menganalogikan lingkungan kerja (termasuk rekan kerja sekantor dan budaya kerja) yang kondusif untuk mengubah diri menjadi lebih baik itu seperti “Roket”. Jason mengutip pernyataan Sheryl Sandberg saat dia akan bergabung dengan Facebook dan kini menjabat sebagai Chief Operational Officer (COO) Facebook:
“ Jika Anda ditawari sebuah kursi di suatu roket, jangan tanya kursinya dimana! Ambil saja! Carilah tempat bekerja yang memiliki kriteria seperti “Roket”!”

C.    Penyesuaian diri Terhadap pekerjaan

1.      Jangan Mengisolasi Diri di Lingkungan Kerja Baru
Sebagai seorang yang masih baru di lingkungan kerja, tidak ada cara yang lebih bagus dalam menjalin komunikasi kecuali dengan rajin bersosialisasi. Jangan menjadi orang yang mengisolasi diri meski Anda masih baru. Misalnya Anda terlalu pendiam, ini sangat tidak bagus.
2.      Jangan Sok Dekat Pada Rekan Kerja, Berinteraksilah Sewajarnya
Ini sebenarnya adalah kebalikan poin pertama. Menjadi orang pendiam memang buruk, namun menjadi orang yang terlalu agresif pada rekan kerja bisa memperburuk suasana. Artinya sebagai seorang yang masih baru di lingkungan kerja, Anda tidak perlu juga sok kenal dan sok akrab pada rekan kerja. Apalagi jika Anda berlagak seperti ingin membuat suasana asik.
3.      Lebih Baik Bertanya Jika Tidak Tahu, Tidak Perlu Sok Tahu
Sebagai seorang yang baru, tentu Anda belum mengetahui segala hal terkait pekerjaan. Terkait pekerjaan sangatlah penting, jangan asal melakukan pekerjaan yang Anda tidak mengetahuinya. Lebih baik tanyakan atau konsultasikan dulu jika Anda tidak jelas atau kurang memahami pekerjaan Anda.
4.      Jangan Lupa Mencatat, Jangan Mengandalkan Ingatan Saja
Ini berhubungan erat dengan job desk pekerjaan Anda sendiri, jika mungkin ada beberapa hal yang belum Anda pahami kemudian Anda tanyakan pada senior, maka catatlah. Jangan hanya mengandalkan ingatan saja, karena jika Anda sedang fokus pada hal lain maka kemungkinan lupa akan sangat tinggi.
5.      Fokus Pada Pekerjaan Saja Dulu, Jangan Pada Hal Lain
Sebagai seorang yang masih baru, hendaknya tidak usah berpikir pada hal lain terlebih dahulu. Fokus saja pada pekerjaan agar Anda bisa memaksimalkan job desk yang diberikan perusahaan pada Anda.


D.    Waktu luang
Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, waktu senggang adalah waktu yang tidak sibuk. Waktu luang biasanya akan diisi dengan kegiatan-kegiatan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan anda di kantor, banyak orang akan mengisi waktu luangnya dengan bersantai dengan oranglain atau bahkan bersantai sendirian (tidur).
Waktu luang sangatlah baik untuk menyegarkan pikiran selama tekanan kerja menyelimuti diri kita, ciptakanlah waktu luang beberapa menit untuk menghindari akan adanya stress dalam sebuah pekerjaan. Tetapi perlu diingat, waktu luang harus mempunyai batasannya. Jangan terbuai di saat ada waktu luang ataupun saat kita menciptakan waktu luang tersebut. Baik-baiklah untuk mengatur atau menjadwalkan kapan untuk waktu luang dan kapan untuk bekerja


Sumber

https://id.techinasia.com/tips-memilih-pekerjaan-bagi-mahasiswa
https://www.maxmanroe.com/5-langkah-mempermudah-proses-penyesuaian-diri-dalam-lingkungan-kerja-baru.html
https://www.academia.edu/8440518/NILAI-NILAI_INDIVIDU_DAN_SIKAP_KERJA_Nilai-Nilai_Individu_Nilai_value


Senin, 27 Juni 2016

Tugas Kesehatan Mental


KEPRIBADIAN YANG SEHAT


MENURUT TOKOH ABRAHAM MASLOW & ERICH FROMM
MENURUT ABRAHAM MASLOW
 
 
MENURUT ERICH FROMM
Latar belakang

Umur 12 tahun ia menyaksikan seorang wanita cantik dan berbakat, sahabat keluarganya, bunuh diri.Ia hidup dalam satu rumah tangga yang penuh ketegangan. Ayahnya seringkali murung, cemas, dan muram. Ibunya mudah menderita depresi hebat. Tampak bahwa Fromm tidak dikelilingi pribadi-pribadi yang sehat. Pada umur 14 tahun Fromm melihat irrasionalitas melanda tanah airnya, Jerman, tepatnya ketika pecah perang dunia pertama. Dia menyaksikan bahwa orang Jerman terperosok ke dalam suatu fanatisme sempit dan histeris dan tergila-gila.

Fromm sangat dipengaruhi oleh tulisan Karl Marx, terutama oleh karyanya yang pertama, The Economic and Philosophical Manuscripts yang ditulis pada tahun 1944. Fromm membandingkan ide-ide Freud dan Marx, menyelidiki kontradiksi-kontradiksinya dan melakukan percobaan yang sintesis. Fromm memandang Marx sebagai pemikir yang lebih ulung daripada Freud dan menggunakan psikoanalisa, terutama untuk mengisi celah-celah pemikiran Marx.

Dalam bukunya Escape from Freedom (1941), ia mengembangkan tesis bahwa manusia menjadi semakin bebas dari abad ke abad, maka mereka juga makin merasa kesepian (being lonely). Jadi, kebebasan menjadi keadaan yang negatif  dimana manusia melarikan diri. Dan jawaban dari kebebasan yang pertama adalah semangat cinta dan kerjasama yang menghasilkan manusia yang mengembangkan masyarakat yang lebih baik, yang kedua adalah manusia merasa aman dengan tunduk pada penguasa yang kemudian dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat.

Fromm membagi sistem struktur masyarakat menjadi tiga bagian berdasar karakter sosialnya:
1. Sistem A, yaitu masyarakat-masyarakat pecinta kehidupan.
2. Sistem B, yaitu masyarakat non-destruktif-agresif.
3. Sistem C, yaitu masyarakat destruktif.

Fromm juga menyebutkan dan menjelaskan lima tipe karakter sosial yang ditemukan dalam masyarakat dewasa ini, yakni:
1. Tipe Reseptif (mengharapkan dukungan dari pihak luar)
2. Tipe Eksploitasi (memaksa orang lain untuk mengikuti keinginannya)
3. Tipe Penimbunan (suka mengumpulkan dan menimbun barang suatu materi)
4. Tipe Pemasaran (suka menawarkan dan menjual barang)
5. Tipe Produktif (karakter yang kreatif dan selalu berusaha untuk menggunakan barang-barang untuk suatu kemajuan)
6. Tipe Nekrofilus-biofilus (nekrofilus orang yang tertarik dengan kematian, biofilus:orang yang mencintai kehidupan)

KONDISI EKSISTENSI MANUSIA

Dilema Eksistensi
Menurut Fromm, hakekat manusia juga bersifat dualistik. Paling tidak ada empat dualistik di dalam diri manusia:

a. Manusia sebagai binatang dan sebagai manusia
Manusia sebagai binatang memiliki banyak kebutuhan fisiologik yang harus dipuaskan, seperti kebutuhan makan, minum, dan kebutuhan seksual. Manusia sebagai manusia memiliki kebutuhan kesadaran diri, berfikir, dan berimajinasi. Kebutuhan manusia itu terwujud dalam pengalaman khas manusia meliputi perasaan lemah lembut, cinta, kasihan, perhatian, tanggung jawab, identitas, intergritas, sedih, transendensi, kebebasan, nilai, dan norma.

b. Hidup dan mati
Kesadaran diri dan fikiran manusia telah mengetahui bahwa dia akan mati, tetapi manusia berusaha mengingkarinya dengan meyakini adanya kehidupan sesudah mati, dan usaha-usaha yang tidak sesuai dengan fakta bahwa kehidupan akan berakhir dengan kematian.

c. Ketidaksempurnaan dan kesempurnaan
Manusia mampu mengkonsepkan realisasi-diri yang sempurna, tetapi karena hidup itu pendek kesempurnaan tidak dapat dicapai. Ada orang berusaha memecahkan dikotomi ini melalui mengisi rentang sejarah hidupnya dengan prestasi di bidang kemanusiaan, dan ada pula yang meyakini dalil kelanjutan perkembangannya sesudah mati.

d. Kesendirian dan kebersamaan
Manusia adalah pribadi yang mandiri, sendiri, tetapi manusia juga tidak bisa menerima kesendirian. Manusia menyadari diri sebagai individu yang terpisah, dan pada saat yang sama juga menyadari kalau kebahagiaannya tergantung kepada kebersamaan dengan orang lain.
Dengan kata lain, kemandirian dan kebebasan yang diinginkan malahan menjadi beban. Ada dua cara menghindari dilema eksistensi yaitu:

1. Menerima otoritas dari luar dan tunduk kepada penguasa dan menyesuaikan diri dengan masyarakat. Manusia menjadi budak (dari penguasa negara) untuk mendapatkan perlindungan/rasa aman.
2. Orang bersatu dengan orang lain dalam semangat cinta dan kerja sama, menciptakan ikatan dan tanggung jawab bersama dari masyarakat yang lebih baik.


KEBUTUHAN MANUSIA
1.Keterhubungan (relatedness): 
Kebutuhan mengatasi perasaan kesendirian dan terisolasi dari alam dan dari dirinya sendiri. Kebutuhan untuk bergabung dengan makhluk lain yang dicintai,menjadi bagian dari sesuatu. (hub anak dan ibu)

2.Keberakaran (rootedness): 
Kebutuhan keberakaran adalah kebutuhan untuk memiliki ikatan-ikatan yang membuatnya merasa nyaman di dunia (merasa seperti di rumahnya). Manusia menjadi asing dengan dunianya karena dua alasan yaitu:
·Dia direnggut dari akar-akar hubungannya oleh situasi (ketika manusia dilahirkan, dia menjadi sendirian dan kehilangan ikatan alaminya)
·Fikiran dan kebebasan yang dikemangkannya sendiri justru memutus ikatan alami dan menimbulkan perasaan isolasi/tak berdaya.

3.Menjadi pencipta (transcendency): 
Karena individu menyadari dirinya sendiri dari lingkungannya, mereka kemudian mengenali betapa kuat dan menakutkan alam semesta itu, yang membuatnya meras tak berdaya. Orang membutuhkan peningkatan diri untuk mengatasi sifat fasif dikuasai alam menjadi aktif, bertujuan dan bebas, berubah dari makhluk ciptaan menjadi pencipta. Seperti menjadi keterhubungan, transendensi bisa positif (menciptakan sesuatu) atau negatif (menghancurkan sesuatu).

4.Kesatuan (unity): 
Kebutuhan untuk mengatasi eksistensi keterpisahan antara hakikat binatang dan non binatang dalam diri seseorang. Keterpisahan, kesepian, dan isolasi semuanya bersumber dari kemandirian dan kemerdekaan dari dilema ini muncul kebutuhan unitas. Orang dapat mencapai unitas, memperoleh kepuasan (tanpa menyakiti orang lain dan diri sendiri) dan hanya dengan berusaha untuk menjadi manusia seutuhnya melalui berbagi cinta dan kerjasama dengan orang lain.


5.Identitas (identity): 
Kebutuhan untuk menjadi “aku”, kebutuhan untuk sadar dengan dirinya sendiri sebagai sesuatu yang terpisah. Manusia harus merasakan dapat mengontrol nasibnya sendiri, harus bisa membuat keputusan, dan merasa bahwa hidupnya nyata-nyata miliknya sendiri. Misalnya orang primitif mengidentifikasikan diri dengan sukunya, dan tidak melihat dirinya sendiri sebagai bagian yang terpisah dari kelompoknya.


Ada juga yang berbentuk PowerPoint :